Kepemimpinan dalam Manajemen Organisasi: Antara Memimpin Orang Lain dan Memimpin Diri Sendiri
Ketika seseorang
menerima sebuah amanah dalam organisasi, ia sebenarnya tidak hanya menerima
sebuah nama dalam struktur kepengurusan. Ia menerima sebuah tanggung jawab.
Menjadi anggota
suatu organisasi berarti ada peran yang harus dijalankan. Menjadi koordinator
berarti ada orang dan pekerjaan yang harus dikoordinasikan, menjadi ketua
berarti ada arah yang harus diberikan dan tanggung jawab yang lebih besar terhadap
keberjalanan organisasinya. Namun, dalam praktiknya, tidak semua amanah selalu
berjalan sebagaimana yang diharapkan. Ada orang yang awalnya hadir, kemudian
perlahan sulit dihubungi. Ada yang tidak lagi merespons pesan. Ada yang tidak
hadir dalam kegiatan. Ada pula yang memiliki tugas, tetapi pada akhirnya tugas
tersebut harus diambil alih oleh orang lain.
Ketika hal semacam
ini terjadi, kita sering kali berhenti pada satu kesimpulan: orang tersebut
tidak bertanggung jawab. Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang
sedang terjadi dalam kehidupan seseorang. Setiap orang memiliki kehidupan di
luar organisasi. Ada persoalan keluarga, akademik, pekerjaan, kondisi
emosional, atau berbagai hal lain yang mungkin tidak pernah diketahui oleh
orang-orang di sekitarnya.
Namun, memahami
kondisi seseorang juga tidak berarti bahwa tanggung jawab kemudian hilang
begitu saja. Keduanya dapat berjalan bersamaan. Kita dapat memahami seseorang
sekaligus tetap mengakui adanya tanggung jawab. Tidak hadir bukan selalu
persoalan. Tidak mampu mengerjakan sesuatu juga bukan selalu persoalan. Yang
menjadi persoalan adalah ketika ketidakmampuan tersebut tidak dikomunikasikan,
sementara orang lain tetap menunggu, pekerjaan tetap berjalan, dan tanggung
jawab tersebut akhirnya harus ditanggung oleh orang lain.
Di sinilah
tanggung jawab dalam organisasi bertemu dengan konsep self-leadership
atau kepemimpinan terhadap diri sendiri. Sebelum memimpin orang lain, setiap
individu perlu belajar mengelola dirinya sendiri: memahami kapasitas, mengatur
waktu dan prioritas, menjaga komitmen, serta bertanggung jawab terhadap amanah
yang telah diterimanya. Memimpin diri sendiri bukan berarti selalu mampu
memenuhi semua tuntutan. Justru, kepemimpinan terhadap diri sendiri berarti
mampu mengenali batas diri dan mengambil sikap ketika menghadapi
keterbatasan. Ketika seseorang tidak mampu menjalankan tanggung jawabnya,
keberanian untuk mengomunikasikan keadaan, meminta bantuan, atau mencari jalan
keluar juga merupakan bentuk kepemimpinan terhadap diri sendiri.
Memimpin diri
berarti mengetahui kapan harus bekerja dan kapan harus beristirahat. Mengetahui
mana yang harus diprioritaskan. Menepati komitmen yang telah dibuat.
Menyelesaikan sesuatu tanpa harus selalu diingatkan. Berani mengambil inisiatif
ketika dibutuhkan. Dan, yang tidak kalah penting, mampu mengatakan ketika diri
sendiri sedang tidak mampu.
Karena memimpin
diri sendiri bukan berarti selalu memaksakan diri untuk mampu melakukan
semuanya.
Justru sebaliknya.
Orang yang mampu memimpin dirinya sendiri seharusnya mampu mengenali batas
dirinya. Ia tahu kapan harus mengatakan, “Saya sanggup.” Tetapi ia juga
tahu kapan harus mengatakan, “Saya sedang tidak sanggup, dan saya
membutuhkan bantuan.”
Ia tidak
menghilang ketika menghadapi kesulitan. Ia berusaha mengomunikasikan apa yang
sedang terjadi. Sebab, organisasi tidak membutuhkan orang yang selalu sempurna.
Organisasi membutuhkan orang-orang yang sadar terhadap tanggung jawabnya.
Namun, pembicaraan
mengenai tanggung jawab individu juga tidak boleh menjadi alasan bagi seorang
pemimpin untuk melepaskan tanggung jawabnya. Jangan sampai setelah berbicara
tentang self-leadership, kita justru sampai pada kesimpulan, “Ya
sudah, setiap anggota harus bisa mengurus dirinya sendiri.” Seorang
pemimpin tetap memiliki tanggung jawab untuk memberikan arah, membangun
komunikasi, mendampingi anggota, membagi pekerjaan dengan jelas, memberikan
umpan balik, dan menciptakan ruang agar anggota dapat berkembang.
Namun, tanggung
jawab tersebut bukan berarti seluruh keberjalanan organisasi harus bertumpu
pada pemimpin. Justru, salah satu bentuk kepemimpinan adalah memberikan
kepercayaan dan ruang kepada anggota untuk menjalankan perannya. Sebab,
organisasi tidak mungkin selalu bergantung pada satu orang. Jika setiap
persoalan harus menunggu ketua, maka organisasi akan menjadi organisasi yang
bergantung pada pemimpinnya. Tetapi jika setiap orang mampu memahami perannya,
mengambil inisiatif, dan bertanggung jawab atas amanahnya, organisasi dapat
bergerak sebagai sebuah kesatuan.
Dengan demikian,
kepemimpinan dalam organisasi sebenarnya memiliki dua arah yang saling
berkaitan: memimpin orang lain dan memimpin diri sendiri. Pemimpin membutuhkan
anggota yang mampu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya,
anggota membutuhkan pemimpin yang mampu memberikan arah, dukungan, dan ruang
untuk bertumbuh.
Keduanya tidak
seharusnya dipertentangkan.
Mungkin inilah
yang sering terlupakan ketika kita berbicara tentang kepemimpinan. Kita terlalu
sibuk mencari siapa yang harus memimpin, sampai lupa bahwa setiap orang adalah
pemimpin bagi dirinya sendiri.
Kepemimpinan bukan
hanya tentang siapa yang berdiri paling depan. Kepemimpinan juga tentang siapa
yang tetap menjalankan bagiannya ketika tidak ada yang mengawasi. Tentang siapa
yang berani mengatakan ketika dirinya tidak mampu. Tentang siapa yang tetap berkomunikasi
ketika keadaan tidak memungkinkan. Tentang siapa yang menyadari bahwa amanah
yang diterimanya bukan hanya tanggung jawab pribadi, tetapi bagian dari
pekerjaan bersama.
Pada akhirnya,
organisasi yang sehat mungkin bukan organisasi yang memiliki pemimpin paling
hebat. Bukan pula organisasi yang seluruh anggotanya selalu aktif setiap waktu.
Melainkan organisasi yang di dalamnya pemimpin mampu memimpin orang lain, dan
setiap individu mampu memimpin dirinya sendiri.
Karena sebelum
kita bertanya apakah seseorang sudah mampu menjadi pemimpin yang baik bagi
orang lain, mungkin ada pertanyaan yang lebih dekat yang perlu kita jawab terlebih
dahulu:
“Sudahkah kita menjadi pemimpin yang baik bagi diri kita sendiri?”
Komentar
Posting Komentar