Botol Bekasmu, Suara untuk Bumi: Pilih Pengepul atau Reverse Vending Machine (RVM)?

Oleh: Gilang Rakha Faiza

Bidang Hikmah, Politik, dan Kebijakan Publik (HPKP) PK IMM FITK UIN Sunan Kalijaga

Yogyakarta, Maret 2026. Isu sampah bukan lagi sekadar narasi lingkungan, melainkan telah menjelma menjadi instrumen politik dan kebijakan publik yang menyentuh ruang-ruang privat kita, termasuk di selasar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Sebagai mahasiswa, kita dihadapkan pada dua pilihan nyata saat memegang sebotol plastik bekas: Memasukkannya ke mesin canggih bernama Reverse Vending Machine (RVM) atau memberikannya kepada Pak Pengepul yang setia melintas di gang-gang Sapen? Dari perspektif Hikmah, Politik, dan Kebijakan Publik, kita perlu memahami opsi mana yang lebih baik: menjual botol bekas ke pengepul atau melalui Reverse Vending Machine (RVM).

1.     RVM: Wajah Estetk Smart City yang Eksklusif

Kebijakan Pemerintah Kota Yogyakarta dalam mendorong penggunaan RVM (seperti yang mulai terlihat di area Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) adalah bagian dari digitalisasi tata kelola limbah.

Secara Kebijakan Publik, RVM menawarkan efisiensi. Setiap botol yang masuk terkonversi menjadi poin digital (seperti saldo e-wallet). Namun, secara Politik, RVM seringkali dikelola oleh kemitraan korporasi besar. Ada risiko "monopoli sampah" di mana sampah bernilai tinggi hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki modal teknologi.


Apakah digitalisasi ini inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat Jogja?

Ataukah ia hanya menjadi gaya hidup elit mahasiswa yang cashless?

2.     Pengepul: Benteng Terakhir Ekonomi Rakyat

Di sisi lain, kita melihat para pengepul tradisional. Dalam kacamata Ekonomi Politik, mereka adalah sektor informal yang selama puluhan tahun menjadi penyerap sampah terbesar di DIY tanpa digaji oleh negara. Menjual atau memberikan botol bekas kepada pengepul adalah tindakan politik praktis untuk menjaga sirkulasi rezeki tetap berada di akar rumput.

Di sinilah Hikmah berbicara. Mengutip spirit Teologi Al-Ma’un yang menjadi napas ikatan kita, keberpihakan kepada mereka yang lemah (mustadh'afin) adalah mandat ideologis. Satu kilogram botol plastik yang kita kumpulkan di Komisariat FITK dan kita serahkan ke pengepul, dampaknya jauh lebih nyata untuk menyambung hidup satu keluarga daripada sekadar angka di saldo aplikasi.

3.     Perbandingan Pengepul vs RVM

Untuk memudahkan analisis, berikut perbandingan antara sistem pengepul tradisional dengan RVM:

Aspek

Pengepul

RVM (Reverse Vending Machine)

Aksesibilitas

Mudah dijumpai, kolektif datang ke lokasi

Terbatas, biasanya hanya di lokasi tertentu

Nilai Ekonomis

Harga pasar PET di wilayah DIY berkisar Rp2.500–Rp3.500 per kilogram (sekitar 30-40 botol)

Bisa berupa uang tunai, voucher, atau poin.

1 botol PET dihargai ±50–100 poin (setara Rp50-100)

Transparansi

Bergantung pada kepercayaan

Sistem otomatis, transparan, tercatat digital

Dampak Sosial

Mendukung ekonomi informal masyarakat

Mendorong inovasi teknologi

Keberlanjutan

Terbatas pada kemampuan daur ulang

Biasanya terintegrasi dengan program daur ulang resmi

4.     Data Faktual: Angka di Balik Botol

Agar diskusi kita tidak sekadar retorika, mari kita lihat datanya (Update Maret 2026):

1. Kapasitas Sampah: Kota Yogyakarta menghasilkan ±390 ton sampah per hari. Sektor informal (pengepul) berhasil menyerap hampir 80% sampah plastik bernilai ekonomi sebelum sampai ke TPA.

2. Perbandingan Nilai:  RVM: 1 botol PET dihargai ±50–100 poin (setara Rp50-100).

3. Pengepul: Harga pasar PET di wilayah DIY berkisar Rp2.500–Rp3.500 per kilogram (sekitar 30-40 botol).

4. Aksesibilitas: RVM masih terkonsentrasi di titik tertentu, sementara pengepul menjangkau pelosok kos-kosan mahasiswa di wilayah Gowok, Papringan, hingga Sapen.

5. Sikap Kita: Transformasi yang Berkeadilan

5.     Analisis dari Perspektif Kebijakan Publik

Dari sudut pandang kebijakan publik, sistem pengepul informal merupakan bagian penting dari ekosistem ekonomi sirkular yang sering terabaikan dalam perumusan kebijakan formal. Pengepul bekerja di level akar rumput, mengumpulkan sampah yang mungkin tidak terjangkau oleh sistem formal.

Sebaliknya, RVM merepresentasikan pendekatan teknologi dalam pengelolaan sampah. Beberapa universitas telah mengadopsi teknologi ini. UMN menjadi kampus swasta pertama yang meluncurkan RVM sebagai bagian dari komitmen sustainability (UMN, 2023). Sementara itu, UGM mengembangkan alat pengolah sampah botol plastik menjadi filamen 3D printer (Laboratorium Peralatan Industri UGM, 2025).

Bidang HPKP PK IMM FITK memandang bahwa teknologi (RVM) memang perlu untuk pendataan, namun jangan sampai ia mematikan ekonomi rakyat. Sebagai calon pendidik dan aktivis, kita harus bijak:

1.   Edukasi Kolektif: Mulailah memilah sampah mulai dari kos. Jangan campur botol plastik dengan sampah organic!

2.   Solidaritas Ekonomi: Utamakan menyalurkan sampah bernilai jual kepada pengepul local sebagai bentuk dukungan ekonomi kerakyatan.

3. Kawal Kebijakan: Mendorong birokrasi kampus UIN Sunan Kalijaga agar sistem pengelolaan sampah internal tetap melibatkan dan memuliakan pekerja sampah informal, bukan sekadar mengejar label "Green Campus" melalui mesin-mesin dingin.

4. Inisiasi Gerakan Melalui IMM FITK: Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dapat menjadi fasilitator gerakan berkelanjutan dan atau mendorong mahasiswa agar aktif berpartisipasi khususnya di lingkungan fakultas.

5.    Edukasi dan Kesadaran: Tingkatkan kesadaran tentang pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab kepada sesama mahasiswa melalui kampanye, diskusi, atau workshop.


Kesimpulan

Satu botol plastik mungkin terlihat kecil, tetapi ribuan botol dari mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dapat menjadi kekuatan yang mendorong perubahan kebijakan. Sebagai generasi muda yang cerdas, kita memiliki tanggung jawab moral (hikmah) untuk membuat pilihan yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga berkelanjutan bagi lingkungan.

Melalui pemahaman politik dan kebijakan publik, kita dapat melihat bahwa setiap pilihan yang kita buat “entah melalui pengepul atau RVM” adalah bagian dari ekosistem yang lebih besar. Mari jadikan botol bekas sebagai suara untuk bumi, dimulai dari kampus kita tercinta.

“Satu botol mungkin kecil. Tapi 1000 botol dari mahasiswa? Itu kebijakan yang bicara.”

Ingin berdiskusi lebih lanjut tentang kebijakan sampah di DIY? Sampaikan aspirasimu di kolom komentar atau hubungi Bidang HPKP PK IMM FITK!

 

Referensi

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY. (2023). Laporan Kinerja Instansi Pemerintah DLHK DIY 2023. Diakses dari https://dlhk.jogjaprov.go.id/wp-content/uploads/2025/03/LKjIP_DLHK_DIY-2023.pdf

Harga Rongsok Botol Plastik yang Perlu Kamu Tahu! (n.d.). Diakses dari https://mesinpencacahplastik.id/harga-rongsok-botol-plastik/

Kompas. (2025, 15 April). Tingkat Daur Ulang Plastik di Dunia Baru 9 Persen. Diakses dari https://lestari.kompas.com/read/2025/04/15/130000886/tingkat-daur-ulang-plastik-di-dunia-baru-9-persen?page=all

Laboratorium Peralatan Industri Departemen Teknik Mesin SV UGM. (2025, Oktober). Diakses dari https://teknikmesin.sv.ugm.ac.id/rilis-berita/laboratorium-peralatan-industri-departemen-teknik-mesin-sv-ugm-kembangkan-alat-pengolah-sampah-botol-plastik-menjadi-filamen-3d-printer/

Perkuat Aksi Nyata Kurangi Sampah Plastik, Sharp dan Plaza Indonesia Ungkap Keunggulan Mesin Daur Ulang RVM. (2025, Desember). Diakses dari https://disway.id/read/915247/perkuat-aksi-nyata-kurangi-sampah-plastik-sharp-dan-plaza-indonesia-ungkap-keunggulan-mesin-daur-ulang-rvm

Universitas Multimedia Nusantara. (2023, Mei). Dukung Sustainability, UMN Jadi Kampus Swasta Pertama yang Luncurkan Reverse Vending Machine. Diakses dari https://www.umn.ac.id/luncurkan-reverse-vending-machine-rvm-umn-berkolaborasi-dengan-plasticpay-bsi-dan-chatime-mempromosikan-sustainability/

Website Bank Sampah Bantul. (n.d.). Diakses dari https://banksampah.id/web/bsbantul

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

JARINGAN STRUKTURAL IMM

MELACAK JEJAK SEJARAH IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

DIALEKTIKA KEPEMIMPINAN IMM DI LINGKUP FITK UIN SUNAN KALIJAGA