GEN Z DAN GEMPURAN POSTINGAN MENTAL HEALTH YANG MEMBUAT HAUS VALIDASI
Oleh : Muhammad Habib, Sarah Ayu Imelda , Astri Mulyani , Wasyilatul Husna Amalia, Aisyah Adawiyah ( Ex DAD Rabbani)
Dalam ruang gelap yang terang benderang oleh layar digital, generasi muda duduk termangu. Penjelajah dalam labirin dunia maya, ya, itulah gen Z, saat ini. Namun, di balik senyum di profil mereka, tersembunyi kisah-kisah yang jarang diceritakan. Ekspektasi akademis, tuntutan sosial —setidaknya di dunia maya— apa kabar kesehatan mental kalian, wahai gen Z?
Sosial media telah beralihfungsi setidaknya untuk saat inisebagai arena mengejar kesuksesan, mencari validasi, dan mempertanyakan arti eksistensi diri. Namun, tidak jarang, (atau bahkan selalu?) layar itu sendiri menjadi sumber toksisitas. Pesan-pesan toxic (baca:beracun), citra tubuh yang tidak realistis, dan perbandingan yang membabi-buta, tidak bisa dipungkiri akan merusak fondasi kesehatan mental gen Z.
Postingan berbau mental health berserakan di dunia maya, akhirnya menciptakan dua sudut pandang berbeda di setiap usernya. Pertama, yang menerima postingan itu dengan bijak, merasa butuh untuk mencari tau lebih lanjut tentang informasi yang ia dapatkan. Intinya, dia tidak menerima mentah mentah. Kedua, yang langsung menerima postingan itu tanpa mencari tau lebih
dalam, dan menyamakan postingan tersebut dengan apa yang dirasakan. Kasarnya, dia hanya mencari validasi.
Hal ini lumrah dirasakan oleh "anak-anak" Gen Z, yang pada tulisan ini kita sebut dengan genzi saja biar gak keminggris. Mereka dengan mudah mendiagnosa diri mengidap sebuah gangguan atau penyakit hanya sependek apa yang mereka ketahui atau informasi yang didapat secara mandiri (self-diagnose). Apalagi setelah mengonsumsi postingan terkait mental health, biasanya, secara tidak sadar, mereka, si genzi ini, serta-merta percaya, disurupi, dan dirasuki oleh saran-saran di postingan tersebut. Efek samping dari fenomena "kerasukan konten mental health" ini adalah, mereka cenderung akan mencari validasi dari orang lain melalui media sosial juga.Memposting status yang menyatakan bahwa dia ini mengalami gangguan mental seperti yang ia lihat di postingan medsosnya. Emang agak menye-menye, tetapi itulah yang terjadi.
Perilaku mendiagnosis diri itu sebenarnya bisa dikatakan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi diri, dan menunjukkan bahwa ada rasa cermat akan perubahan yang terjadi pada diri sendiri. Namun, kebanyakan genzi menyalahfungsikan rasa kepedulian dirinya pada kesiasiaan, yang pada akhirnya —perilaku self-diagnose itu— dapat membahayakan dirinya sendiri. Bagaimana cara supaya kamu, genzi, —atau kita, karena penulis juga genzi— bisa mengontrol tindakan self diagnose ini? Bukan berarti tidak boleh, tapi gak ada salahnya kalau bisa lebih bijak dalam memahami sebuah postingan, kan?
#1 Selami lebih dalam informasi yang didapat, sampai dasarnya kalau perlu
Saat ini, medsos memang udah menjadi sarang informasi. Tapi, sayangnya, tidak satupun yang bisa menjamin keakuratan informasi tersebut. Nah, dalam kasus ini ada baiknya kamu memilih konten kesehatan mental yang memang dibuat oleh ahlinya, seperti psikologi, psikiater, atau lembaga resmi yang menangani kondisi kejiwaan. Verifikasi, check-and-recheck.
#2 Hindari tes mental online yang soalnya cuma nanya gejala umum aja
Akhir-akhir ini banyak laman yang menyediakan “jasa” tes-tes kesehatan mental secara daring. Akan tetapi, hasil tes yang keluar belum tentu kredibel untuk dijadikan dasar diagnosis. Selain tidak jelas asal-usulnya, hasil tes-tes online seperti itu tentu saja hanya berdasarkan gejala umum, bukan gejala spesifik. Seperti pertanyaan, "apa kamu suka nasi Jika iya, maka kamu adalah tipe orang yang seperti blablabla..." padahal, kan, ya, di dapur cuma ada nasi.
#3 Jangan jadikan penderita gangguan mental lain sebagai rujukan
Nah ini, kadang kalau melihat orang yang memiliki kondisi yang mirip langsung dijadikan rujukan, padahal kondisi satu sama lain itu belum tentu sama. Kesamaan ini bisa memicu kita untuk mengambil kesimpulan bahwa kita mengalami kondisi kejiwaan yang sama juga. Meski terdapat kemiripan, balik lagi kondisi mental atau jiwa setiap orang itu tentunya kompleks dan tidak dapat disamakan. Kamu nangis di motor supra batok geter sedangkan dia nangis di dalam sejuknya fortuner, kan, gak bisa disamain.
#4 Jangan ragu untuk pergi ke psikolog atau psikiater
Selain mencerna terlebih dahulu dan menggali lebih lanjut terkait dengan mental health, langkah paling bener yang dapat dilakukan oleh genzi adalah pergi ke ahlinya atau pakar, seperti dokter, psikolog, dan psikiater. Tapi nyatanya, orang awam akan berpikir kalau pergi ke psikolog atau psikiater adalah jika orang tsb sudah gila. Stigma seperti ini harus dihilangkan, karena selain membuat orang tidak berani untuk konsultasi dengan ahli, juga akan membuat semakin banyak orang yang akan termakan informasi yang tidak kredibel. Padahal pergi ke psikolog atau psikiater merupakan cara paling tepat yang dapat membantu menyelesaikan masalah yang diderita. Jangan lupa cerita ya, genzi!
Referensi : https://mojok.co/terminal/5-istilah-seputar-percintaan-gen-z-yang-perlu-diketahui-
generasi-lain/
Tidak ada komentar