Header Ads

Header ADS

Badiuzzaman Said Nursi

Oleh : ANA FITRATIN NPZ, TIARA RENATA, ROCHMATINA, DIYAH AYU PRAMESWARI (Ex DAD Rabbani)
Badiuzzaman said nursi merupakan seorang tokoh ulama yang namanya sangat melegenda dari dulu hingga sekarang. Beliau juga adalah tokoh utma yang patut dijadikan sebagai teladan umat dengan pendirian nya yang mengabdi kepada agama Allah harus menjadi tujuan utama setiap manusia. Beliau tetap bersiteguh dengan keyakinan yang tidak pernah pudar dan menyimpang sedikitpun.
Said nursi lahir di tahun 1293 H/ 1877 M di desa Nurs daerah Bitlis, Anatolia Timur atau lebih tepatnya di sebelah Selatan Danau Van. Beliau merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara, yang mana keempat saudara laki-laki nya tumbuh menjadi tokoh agama dengan pengaruh yang berbeda-beda. Beliau dilahirkan dalam sebuah keluarga yang sederhana dari pasangan Mirza dan Nurlye. Kedua orangtuanya berasal dari suku Kurdi yang berada di kawasan geografis Usmani yang dikenal sebagai masyarakat Kurdistan. 

Dua anak tertua dari keluarga tersebut adalah perempuan, Duriye dan Hanim. Hanim memilliki reputasi sebagai orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas dalam agama. Anak kedua adalah Abdullah seorang guru yang merupakan guru Said muda. Adik Said bernama Mehmed yang mengajar di desa Arvas kemudian Abdulmecit, yang paling membuatnya terkenal adalah terjemahannya atas dua karya Nursi yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Turki.
Indikasi-indikasi kejeniusan sudah mulai tampak sejak Said Nursi masih mungil. Hal ini terlihat pada kebiasaan beliau yang banyak bertanya dan gemar menelaah masalah-masalah yang belum dimengertinya. Ia juga sering membuat pertanyaan-pertanyaan ilmiah dalam benaknya.

Di usia kecilnya, Said Nursi juga gemar menghadiri forum pendidikan yang diselenggarakan untuk orang-orang dewasa dan menyimak diskusi-diskusi tentang berbagai kajian, khususnya majelis ulama yang dihadiri para ulama setempat di rumah ayahnya ketika musim dingin. Selain itu, beliau juga terkenal sebagai anak yang pandai memelihara harga diri dan perbuatan zalim. Sikap dan sifat-sifat tersebut terus melekat dan bertambah kuat dalam kepribadiannya.
Al-Qur’an adalah studi pertama yang Beliau arungi setelah menginjak usia sembilan tahun. Awal kali yang menjadi motivasi Said untuk belajar adalah teladan dari kakaknya, Molla Abdullah. Dengan ketekunan dan keunggulan yang dimiliki kakaknya, sehingga membuat Molla Abdullah berbeda dengan teman desanya yang tidak pernah belajar sehingga membuat Said melihatnya memiliki keinginan untuk belajar seperti kakaknya.
Said Nursi memulai belajarnya di Kuttab (madrasah) yang dipimpin oleh Muhammad Afandi di desa Tag pada tahun 1882 M, namun tidak berlangsung lama. Kemudian, Said melanjutkan pendidikannya di desa Pirmis namun tidak berlangsung lama. Setelah itu, pada tahun 1888 M, beliau berangkat ke Biltis dan mendaftarkan diri di sekolah Syaikh Emin Efendi. Ketika Syaikh sedang mengajar di Masjid, Said bangkit dan menolak apa yang disampaikan oleh Syaikh dengan mengatakan “Tuan, Anda salah. Yang benar begitu.” Dengan perkataan yang dilontarkannya, semua orang yang ada di sana menatap beliau dengan penuh takjub. Tidak mungkin seorang murid menentang otoritas seorang Syaikh, sehingga beliau harus keluar dari pendidikannya.

Kemudian, melanjutkan lagi di Madrasah Mir Hasan Wali di Mukus. Kepala sekolahnya adalah Molla Abdullarem. Beliau hanya bertahan beberapa hari, kemudian melanjutkan ke Vastan dekat Van. Setelah satu bulan di Vastan, beliau bertolak dengan seorang temannya, Molla Mehmet, menuju Beyasi, sebuah kota kecil di dekat kaki gunung Ararat. Di tempat inilah yang menjadi sekolah terakhirnya dengan berada di bawah bimbingan Syaikh Muhammad Celali. Saat belajar secara intensif dalam jangka waktu tiga bulan, di sinilah beliau mempelajari ilmu-ilmu agama dasar yang kelak akan menjadi landasan berpikirnya, karena beliau sebelumnya hanya belajar Nahwu dan Sharaf saja. Setelah tiga bulan berlalu, beliau berhasil memperoleh ijazah dari Syaikh Muhammad Caleli.

Kejeniusan yang dimilikinya, menjadikan beliau mampu mempelajari buku-buku dan kitab-kitab dengan sangat singkat. Hal itu juga menambah luasnya popularitas beliau sebagai manusia jenius. Kebiasaan beliau sehari-harinya hanya membaca dan menghafal kitab-kitab secara berulang-ulang sampai dia menguasainya. Dengan itu, banyak ulama-ulama yang penasaran terhadap beliau sehingga membuat mereka silih berganti mengunjungi beliau untuk berdiskusi dan menyuguhkan beberapa pertanyaan. Namun, semua pertanyaan dan masalah yang diajukan kepada beliau dapat dijawab dengan sangat argumentatif, sehingga mereka menjulukinya dengan “Said Masyhur”.
Demikian kira-kira tempuhan perjuangan Said Nursi dalam mengarungi ilmu pengetahuan. Buah hasil yang beliau dapatkan berkat keteguhan dan perjuangannya tidak saja dalam bidang ilmu keagamaan, namun di berbagai bidang ilmu. Setelah beliau lama berkemelut dalam keilmuan, selanjutnya beliau ikut ambil bagian dalam berjuang membela masa depan umat di mana beliau hidup pada kondisi terpuruk dengan runtuhnya Dinasti Turki Usmani.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.