Header Ads

Header ADS

IMM Salah Satu Tempat yang Tepat Sebagai Batu Pelompat untuk Mahasiswa Mengupgrade Diri

 Oleh : Hasna Mufida


    Seorang anak ketika beranjak menjadi mahasiswa, banyak sekali perubahan yang akan dia lewati dan rasakan. Mulai dari pertemanan, perebutan dalam pemerolehan nilai saat proses kuliah berlangsung, sampai lingkup organisasi yang akan dia ikuti. Sejauh ini, penulis masih banyak menemukan mahasiswa yang belum tau banyak tentang organisasi apa saja yang ada di kampus, sehingga terkadang muncullah sifat FoMo (Fear of Missing Out) di lingkungan mahasiswa itu sendiri. FoMo merupakan sebuah sindrom kecemasan sosial yang mana ditandai keinginan seseorang untuk terus berhubungan dengan apa yang dilakukan oleh orang lain, sehingga dia merasa tidak kehilangan momen bersama temannya (Akbar dkk., 2019).
    FoMo (Fear of Missing Out) banyak terjadi diberbagai lingkup. Mulai dari ketika proses Mata Kuliah di kelas sampai memilih suatu organisasi. Penulis juga menemukan beberapa mahasiswa yang ikut-ikutan temannya dalam memiih suatu organisasi, sehingga yang pada akhirnya dia kebingungan sendiri, karena belum mencari tau organisasi apa itu, bagaimana sistem kerjanya dan bergerak dalam ranah mana saja. Dengan kebingungan itulah membuat dia yang ikut-ikutan temannya tidak bisa mengembangkan skill atau potensi yang dia miliki. Selain itu, dia juga tidak bisa membawa dirinya untuk aktif atau ikut bergerak bersama dalam organisasi tersebut.
    Pada dasarnya organisasi disediakan oleh kampus untuk memberi wadah mahasiswa nya mengupgrade soft skill atau hard skill mereka, karena ketika di dalam kelas waktu sangat terbatas sehingga mahasiswanya belum banyak mengeluarkan skill mereka dengan maksimal. Dalam pasal 5 Kepmendikbud No. 155/U/1998 dijelaskan bahwa fungsi organisasi bagi mahasiswa sebagai sarana pengembangan akademik maupun non akademik mahasiswa. Menurut Chester I. Bernard, Organisasi merupakan sistem kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau bahkan lebih untuk melaksanakan suatu aktivitas yang mana didalamnya membutuhkan komunikasi untuk mencapai suatu tujuan secara bersama.
    Dalam banyaknya organisasi di kampus, ada satu organisasi yang bergerak dalam basis Muhammadiyah, yaitu IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). IMM lahir pada tanggal 14 maret 1964 atau bertepatan dengan 29 Syawal 1384 H. Didirikan oleh beberapa tokoh Muhammadiyah yang mana ketua pertamanya ialah Drs. Moh. Dzasman Al-Kindi. Secara singkat organisasi IMM ini lahir karena didasari oleh dua faktor, yakni faktor internal (dominan pada idealisme untuk mengembangkan ideologi muhammadiyah, yakni faham dan cita-cita muhammadiyah) dan faktor eksternal (awalnya mahasiswa muhammadiyah gabung dengan HMI, yang mana lama-lama HMI menjadi target pemberantasan politik oleh PKI, sehingga didirikanlah IMM untuk menyelamatkan mahasiswa muhammadiyah yang ada di HMI).
    IMM memiliki tujuan yaitu, mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan muhammadiyah. Tak hanya tujuan, IMM juga memiliki slogan dengan bunyi “Anggun dalam Moral, Unggul dalam Intelektual Billahi Fi sabilil haq, fastabiqul khairat”. Sama dengan organisasi umumnya, IMM juga memiliki identitas, diantaranya IMM adalah organisasi kader yang bergerak dalam kemahasiswaan, keagamaan, dan kemasyarakatan. IMM juga memantapkan gerakan dakwah di tengah masyarakat khususnya mahasiswa. Semua anggota IMM harus bisa memadukan ilmiah dan aqidahnya, sehingga dapat tertib dan seimbang dalam hal ibadah dan menuntut ilmu.
    Tak hanya banyak kata manis di tulisan saja, IMM juga sudah banyak melakukan aksi nyata. Seperti contoh, Tanggal 22 September 2018 IMM Jogja bergerak menggelarkan aksi peduli dan teatrikal di titik nol kilometer, mereka sengaja turun ke jalan sebagai ungkapan kepedulian mereka kepada pemerintah. Dan aksi mereka pada saat itu merupakan aksi damai, peduli dan berdoa untuk negeri. Tak hanya itu, ada juga aksi IMM Jawa Tengah yang protes dalam menolak kenaikan harga BBM bersubsidi yang diumumkan Presiden Jokowi pada tanggal 03 September 2022 lalu. Sehingga pada tanggal 05 September 2022 kader IMM se Banyumas Raya dan pansela aksi di depan gedung DPR Banyumas.
    Karena penulis masih sebagai pemula di dalam Organisasi IMM yang mana masih minim pengalaman, maka penulis menemukan dampak positif bagi mahasiswa atau kadernya dalam artikel lain. Didalam artikel (Pribadi, 2018) dijelaskan bahwa, keberadaan IMM di Perguruan Tinggi Muhammadiyah Palopo (Sulawesi Selatan) khususnya saat pelatihan Darul Arqam Dasar Madya (DADM) dan kajian-kajian keislaman memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan perilaku beragama Mahasiswa, seperti dalam aqidah, ibadah, dan akhlak mahasiswa. Tak hanya itu, mahasiswa juga menerapkan jiwa tanggung jawab dalam diri mereka, untuk semangat mengaktifkan roda organisasi IMM di Perguruan Tinggi Muhammadiyah Palopo.
    Dalam artikel awal dijelaskan dalam sisi keagamaannya. Penulis menemukan artikel lain, yang mana dalam beroganisasi IMM berefek pada sisi kemasyarakatan kadernya. Pada artikel (Muhtarom dkk., 2021) berisi tentang, PK IMM FKIP UHAMKA (Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka Jakarta) yang meningkatkan rasa solidaritas serta peduli terhadap lingkungan kadernya kepada masyarakat dengan cara Replananting Lahan Kosong yang berlokasi di Desa Gunung Karang, Pandeglang Banten. Dalam pengiplementasi terhadap peduli terhadap lingkunga, para kader PK IMM FKIP UHAMKA mengajak mengajak masyarakat untuk menanam pohon bersama untuk menjaga kestabilan hutan disana.
    Dengan melihat banyak aksi nyata dan dampak positif mahasiswa masuk ke IMM yang sudah dituang dalam artikel diatas, membuat penulis semakin yakin, masuk ke Organisasi IMM merupakan jalan yang benar. Selain jelas tujuannya, banyak juga hal positif yang akan didapatkan.


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.