Header Ads

Header ADS

Pendidik Cerdas yang Mencerdaskan

 

Oleh: Anisa Widiawati

 

    Pendidik ibarat sebuah orkestra dimana masing-masing siswa memainkan dan menghasilkan beragam bunyi atau suara yang berbeda-beda sehingga membentuk sebuah aransemen yang indah. Pendidik yang gagal adalah pendidik yang hanya berfungsi sebagai paduan suara. Dengan kata lain, siswa hanya meniru gurunya, membuat pembelajaran menjadi monoton dan membosankan. Model “meniru” ini bukanlah kesalahan yang tidak dapat dibenarkan jika didasari kearifan lokal yang didasarkan pada tradisi yang baik.

Pendidikan hakikatnya ialah menumbuhkan kearifan hidup melalui proses pembelajaran tentang kehidupan. Pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif agar peserta didik dapat mengembangkan perannya dalam lingkungan sosial yang selalu berubah. Di sisi lain, pendidikan yang hanya memperkaya pengetahuan menghasilkan peniru yang gagap dalam lingkungannya.

Pendidikan bukan hanya sekedar transfer of knowledge dan transfer of value, karena pendidikan semacam ini hanya membuat sejarah terhenti dan budaya menjadi statis. Pendidikan semacam ini hanya menghasilkan pengulangan terbatas pada pengajaran teori ilmu pengetahuan dan teori nilai. Ketika membicarakan pendidikan dan pembelajaran bagi siswa, sering tidak ketinggalan dibahas masalah kecerdasan manusia.

Kecerdasan tidak dapat diamati secara langsung, tetapi harus disimpulkan dari berbagai perilaku aktual yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional. Ada perbedaan mendasar antara kecerdasan dan IQ. Kecerdasan ialah kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional, sedangkan IQ atau Intelligence Quotient ialah skor yang diperoleh dari alat tes kecerdasan. Ini hanya memberikan informasi parsial tentang tingkat kecerdasan dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.

Pada dasarnya semua anak dilahirkan dalam keadaan yang sangat cerdas. Berkembang atau tidaknya kecerdasan seorang anak tergantung pada sikap, keterampilan, dan pengetahuan orang tuanya. Salah satu aspek terpenting dalam mengasuh anak-anak cerdas ialah menghindari membandingkan mereka dengan anak-anak lain. Ini sangat menghambat kemampuan anak untuk memperoleh kecerdasan. Setiap anak memiliki kelebihan. Jangan hanya berkonsentrasi pada kekurangan anak, tetapi lebih pada kelebihannya.

Satu langkah menuju mengasah kemampuan dan kecerdasan telah diambil jika kita mampu belajar dan menumbuhkan lingkungan yang mendorong dan mengarah pada kondisi belajar yang sempurna dan sikap positif terhadap belajar. Untuk mendapatkan hasil yang sukses, lingkungan atau suasana belajar yang menyenangkan harus diciptakan. Semua aspek dukungan harus ditingkatkan untuk mengembangkan lingkungan belajar yang menyenangkan serta memberikan rasa aman dan nyaman kepada semua siswa.

Lingkungan belajar fisik yang mendukung, khususnya penciptaan lingkungan yang damai, menarik, dan nyaman, merupakan salah satu aspek tersebut. Hubungan kooperatif antara guru dan siswa yang menumbuhkan keamanan emosional merupakan faktor lain yang mendukung pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa ketika membimbing siswa atau anak, guru atau orang tua harus mengambil sikap positif. Seorang anak ialah makhluk hidup dengan jiwa dan kemauan, bukan bejana kosong yang perlu diisi seperti botol kosong.

Proses belajar mengajar secara strategis dilakukan oleh guru sebagai wahana belajar hidup. Teori-teori yang tadinya statis dan tidak bernyawa diubah menjadi pengetahuan yang berjiwa dan hidup. Diharapkan guru dapat menjadi teman bagi siswa dalam mempelajari hidup. Cara atau gaya belajar mencakup faktor-faktor fisik, emosional, sosiologi, dan lingkungan. Ada beberapa siswa yang membutuhkan ruangan yang terang agar dapat belajar secara efektif, namun ada juga yang tidak mampu. Beberapa siswa belajar lebih cepat dalam kelompok, tetapi beberapa lebih suka belajar secara mandiri. Ada siswa yang dapat belajar dengan lingkungan tertata rapi tetapi ada pula yang bisa belajar dengan keadaan apa adanya. Ada pula siswa yang dapat belajar dengan nyaman sambil mendengarkan musik, sementara yang lain bisa belajar dengan nyaman dalam keadaan sepi.

Di tangan pendidik cerdas, perbedaan-perbedaan itu justru saling melengkapi dan bila dikelola dengan baik akan melahirkan iklim belajar yang kondusif. Tentu saja pekerjaan ini tidaklah semudah membalikkan tangan. Diperlukan kecermatan, keuletan, kesungguhan, dan kreativitas agar bibit-bibit positif dalam diri anak bisa tumbuh subur di kemudian hari. Inilah kunci keberhasilan suatu bangsa yang tidak lepas dari peran pendidik. Wajib disadari bahwa pendidik bukan hanya orang yang berprofesi sebagai guru. Setiap kita mengemban amanah untuk menjadi pendidik, utamanya menjadi pendidik yang cerdas karena kita pasti memiliki murid. Minimal murid itu adalah diri kita sendiri, keluarga, dan anak-anak.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.