Pendidik Cerdas yang Mencerdaskan
Oleh: Anisa Widiawati
Pendidikan
hakikatnya ialah menumbuhkan kearifan hidup melalui proses pembelajaran tentang
kehidupan. Pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif
agar peserta didik dapat mengembangkan perannya dalam lingkungan sosial yang selalu
berubah. Di sisi lain, pendidikan yang hanya memperkaya pengetahuan
menghasilkan peniru yang gagap dalam lingkungannya.
Pendidikan
bukan hanya sekedar transfer of knowledge dan transfer of value, karena
pendidikan semacam ini hanya membuat sejarah terhenti dan budaya menjadi
statis. Pendidikan semacam ini hanya menghasilkan pengulangan terbatas pada pengajaran teori
ilmu pengetahuan dan teori nilai. Ketika membicarakan pendidikan dan
pembelajaran bagi siswa, sering tidak ketinggalan dibahas masalah kecerdasan
manusia.
Kecerdasan
tidak dapat diamati secara langsung, tetapi harus disimpulkan dari berbagai
perilaku aktual
yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional. Ada perbedaan
mendasar antara kecerdasan dan IQ. Kecerdasan ialah kemampuan mental yang
melibatkan proses berpikir secara rasional, sedangkan IQ atau Intelligence Quotient ialah skor yang
diperoleh dari alat tes kecerdasan. Ini hanya memberikan informasi parsial
tentang tingkat kecerdasan dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara
keseluruhan.
Pada
dasarnya semua anak dilahirkan dalam keadaan yang sangat cerdas. Berkembang
atau tidaknya kecerdasan seorang anak tergantung pada sikap, keterampilan, dan
pengetahuan orang tuanya. Salah satu aspek terpenting dalam mengasuh anak-anak
cerdas ialah menghindari membandingkan mereka dengan anak-anak lain. Ini sangat
menghambat kemampuan anak untuk memperoleh kecerdasan. Setiap anak memiliki
kelebihan. Jangan hanya berkonsentrasi pada kekurangan anak, tetapi lebih pada
kelebihannya.
Satu
langkah menuju mengasah kemampuan dan kecerdasan telah diambil jika kita mampu
belajar dan menumbuhkan lingkungan yang mendorong dan mengarah pada kondisi
belajar yang sempurna dan sikap positif terhadap belajar. Untuk mendapatkan
hasil yang sukses, lingkungan atau suasana belajar yang menyenangkan harus
diciptakan. Semua aspek dukungan harus ditingkatkan untuk mengembangkan
lingkungan belajar yang menyenangkan serta memberikan rasa aman dan nyaman
kepada semua siswa.
Lingkungan
belajar fisik yang mendukung, khususnya penciptaan lingkungan yang damai,
menarik, dan nyaman, merupakan salah satu aspek tersebut. Hubungan kooperatif
antara guru dan siswa yang menumbuhkan keamanan emosional merupakan faktor lain yang
mendukung pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa ketika membimbing siswa atau
anak, guru atau orang tua harus mengambil sikap positif. Seorang anak ialah
makhluk hidup dengan jiwa dan kemauan, bukan bejana kosong yang perlu diisi
seperti botol kosong.
Proses
belajar mengajar secara strategis dilakukan oleh guru sebagai wahana belajar
hidup. Teori-teori yang tadinya statis dan tidak bernyawa diubah menjadi
pengetahuan yang berjiwa dan hidup. Diharapkan guru dapat menjadi teman bagi
siswa dalam mempelajari hidup. Cara atau gaya belajar mencakup faktor-faktor
fisik, emosional, sosiologi, dan lingkungan. Ada beberapa siswa yang membutuhkan
ruangan yang terang agar dapat belajar secara efektif, namun ada juga yang
tidak mampu. Beberapa siswa belajar lebih cepat dalam kelompok, tetapi beberapa
lebih suka belajar secara mandiri. Ada siswa yang dapat belajar dengan
lingkungan tertata rapi tetapi ada pula yang bisa belajar dengan keadaan apa
adanya. Ada pula siswa yang dapat belajar dengan nyaman sambil mendengarkan
musik, sementara yang lain bisa belajar dengan nyaman dalam keadaan sepi.
Di
tangan pendidik cerdas, perbedaan-perbedaan itu justru saling melengkapi dan
bila dikelola dengan baik akan melahirkan iklim belajar yang kondusif. Tentu
saja pekerjaan ini tidaklah semudah membalikkan tangan. Diperlukan kecermatan,
keuletan, kesungguhan, dan kreativitas agar bibit-bibit positif dalam diri anak
bisa tumbuh subur di kemudian hari. Inilah kunci keberhasilan suatu bangsa yang
tidak lepas dari peran pendidik. Wajib disadari bahwa pendidik bukan hanya
orang yang berprofesi sebagai guru. Setiap kita mengemban amanah untuk menjadi
pendidik, utamanya menjadi pendidik yang cerdas karena kita pasti memiliki
murid. Minimal murid itu adalah diri kita sendiri, keluarga, dan anak-anak.

Tidak ada komentar