Minimnya Minat Literasi Anak Akibat Pandemi
Oleh : Riana Nida Ma’rifah
Indonesia memiliki banyak permasalahan terkait bidang pendidikan.
Salah satu contohnya adalah kurangnya literasi pada anak. Menurut informasi
yang dilansir dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, UNESCO telah
menyebutkan bahwa Indonesia menempati urutan kedua dari bawah untuk tingkat
literasi dunia. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat
mengkhawatirkan, hanya 0,001%. Dengan kata lain, hanya 1 dari 1000 orang di
Indonesia yang rajin membaca. Fakta tersebut membuktikan bahwa literasi dan
minat baca di Indonesia sangat rendah. Oleh karena itu, hal tersebut menjadi
acuan bahwa isu ini penting untuk diangkat.
Apa itu literasi ? Secara etimologis, literasi berasal dari bahasa
Latin “literatus” yang artinya adalah orang yang belajar. Sedangkan istilah
literasi menurut National Institute for Literacy adalah kemampuan
individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah
pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.
Definisi tersebut memiliki makna bahwa, definisi literasi tergantung pada
keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu. Seperti yang telah kita
ketahui bahwa, Indonesia merupakan salah satu negara
yang mempunyai jumlah penduduk terbanyak di dunia. Oleh karena itu, Indonesia
sangat membutuhkan generasi mumpuni yang dapat mengangkat derajat dan martabat
bangsa. Literasi
ini menjadi salah satu jembatan yang paling penting dalam mencerdaskan anak
bangsa. Namun, dengan adanya pandemi COVID-19 yang menggemparkan dunia,
segalanya berubah.
Pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia merupakan bagian dari Global
Coronavirus Disease yang sedang berlangsung dan masih menjadi topik hangat
di Indonesia. Dampak dari pandemi dalam bidang pendidikan mengalami perubahan.
Menurut Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan
dalam masa darurat penyebaran Coronavirus Disease (COVID-19), maka semua
kegiatan proses belajar dilakukan secara online untuk tetap menjaga
kesehatan semua orang yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar. Semua
aktivitas kegiatan belajar mengajar dilakukan melalui gadget dengan
perkembangan teknologi yang semakin canggih. Baik itu pendidik maupun peserta
didik dituntut untuk bisa mengikuti perkembangan teknologi yang ada.
Semakin berkembangnya teknologi yang ada, seharusnya menjadi
peluang untuk dapat meningkatkan literasi pada generasi saat ini. Karena segala
informasi apapun dapat diakses melalui teknologi yang memadai. Namun terkadang
permasalahannya adalah peserta didik itu malas untuk mencari tahu, karena
terbiasa mendapatkan informasi secara langsung melalui pendidik atau orang lain
bukan dengan membaca suatu informasi melalui gadget-nya.
Dengan adanya sistem pembelajaran Student Centered Learning menjadi salah
satu solusi untuk permasalahan tersebut.
Pembelajaran Student Centered Learning (SCL) merupakan suatu
model, metode, atau pendekatan pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai
pusat proses belajar-mengajar yang mana selain dapat mengembangkan pengetahuan
akademis, juga memungkinkan peserta didik mengembangkan minat, motivasi, dan
juga keterampilan individunya menjadi lebih aktif, kreatif, dan inovatif.
Dengan menerapkan metode ini, peserta didik mau tidak mau dituntut untuk bisa
belajar otodidak (belajar secara mandiri) dan pendidik hanya sebagai fasilitator.
Student Centered Learning (SCL) ini juga menjadikan peserta didik haus
akan ilmu dan memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Mereka akan terus
mencari dan membaca secara berkala untuk mendapatkan ilmu-ilmu yang baru. Hal
inilah yang menjadikan minat literasi anak dapat ditingkatkan secara bertahap.
Menurut Dikti (2014), model pembelajaran yang menggunakan
pendekatan Student Centered Learning, yaitu : Small Group Discussion
(SGD) , Role-Play Simulation, Discovery Learning, Self-Directed Learning, Cooperative
Learning, Contextual Learning (CL), Problem Based Learning (PBL), Collaborative
Learning (CbL), dan Project Based Learning (PjBL). Dari model-model
pembelajaran di atas jelas terlihat bahwa peserta didik lebih dominan dalam
proses kegiatan belajar. Selain dapat meningkatkan literasi juga dapat
menjadikan peserta didik lebih aktif dan berpikir kritis dalam proses
pembelajaran.
Selain Student Centered Learning (SCL) terdapat peran
perpustakaan di belakangnya. Dan ternyata perpustakaan ini memiliki kontribusi
besar dalam menciptakan masyarakat literat. Zaman sekarang perpustakaan tidak
hanya perpustakaan konvensional saja, namun dengan berkembangnya teknologi yang
ada mulai muncul perpustakaan digital atau disebut e-Library. Perpustakaan
digital (e-Library) ini lebih mudah dan praktis digunakan apalagi bagi
kaum milenial sekarang. Segala jenis koleksi buku yang ada, sebagian besar
berbentuk format digital. Yang mana baik itu perpustakaan konvensional maupun
perpustakaan digital dapat menunjang referensi-referensi literatur bagi semua
kalangan.
Dari pembahasan yang telah dipaparkan di atas, peluang untuk
meningkatkan literasi itu sudah ada, seperti perpustakaan dan juga model
pembelajaran Student Centered Learning (SCL). Namun, semua itu juga
harus didasari pada rasa keingintahuan dan keinginan anak untuk membaca. Dengan
meluangkan waktu minimal 10 menit untuk membaca itu juga akan dapat membiasakan
kita dalam menumbuhkan minat baca. Akhir kata, marilah kita tingkatkan lagi
kesadaran dalam diri bahwa kemajuan dan masa depan bangsa Indonesia ini ada di
tangan kita para calon generasi bangsa. Maka dari itu, marilah kita bangkit
menjadi salah satu bagian dari 999 per 1000 orang di Indonesia yang rajin
membaca.

Tidak ada komentar