Analisis Pembelajaran, Pendidikan dan Kesulitan Anak dalam Belajar Baca Tulis Hitung (Calistung)
Oleh: Agnia Rahma
Pendidikan merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia. Pendidikan selalu menjadi hal paling krusial dalam tumbuh kembang anak. Karena dengan pendidikan, seorang anak akan mempelajari bagaimana dunia bekerja, memahami bagaimana pola pikir yang baik, serta menjadikannya sebagai bagian dari cara bertahan hidup. Pendidikan mengajarkan kepada seorang anak untuk memahami bahwa kehidupan memiliki aturan main, norma-norma sosial, dan peraturan-peraturan baik tertulis atau tidak tertulis yangharus ditaati dan dipatuhi. Sama halnya dalam sebuah permainan dimana peraturan dibuat untuk menciptakan sebuah keteraturan, ketertiban dan keadilan untuk semua pemain yang ada. Kehidupan bermasyarakat juga memiliki “aturan main” yang harus dipahami, ditaati dan diikuti dengan baik supaya keteraturan dan ketertiban dapat diraih oleh semua orang. Pendidikan memberikan pemahaman pada anak-anak bahwa dalam kehidupan, peraturan dan norma-norma sosial memiliki urgensi demikian. Oleh karena itu sangat penting bagi seorang anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan cukup. Bahkan, di Indonesia sendiri pendidikan formal yang wajib ditempuh oleh seorang anak adalah 12 tahun yaitu dari pendidikan dasar, pendidikan menengah pertama, dan pendidikan menengah atas/kejuruan. Hal ini diatur dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).
Dalam memahami pendidikan pada anak, proses belajar sejatinya
adalah pembeda aktivitas yang
dilakukan oleh manusia dengan makhluk hidup lainnya. Aktivitas
belajar dilakukan supaya seorang manusia dapat tumbuh dan berkembang dan
mempertahankan serta memperbaiki kualitas hidupnya di masa sekarang maupun di
masa depan. Salah satu ciri dari aktivitas belajar menurut para ahli pendidikan
dan psikologi adalah adanya perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku itu
biasanya berupa penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang baru dipelajarinya,
atau penguasaan terhadap keterampilan dan perubahan yang berupa sikap. Hakikat
dari belajar sejatinya dapat dipahami melalui konsep yang lebih komprehensif
dari berbagai sumber seperti filsafat, penelitian empiris, dan teori. Para ahli
filsafat telah mengembangkan konsep belajar secara sistematis atas dasar
pertimbangan nalar dan logis tentang realita kebenaran, kebajikan dan
keindahan. Bagi penganut filsafat idealisme hakikat realita terdapat dalam
pikiran, sumber pengetahuan adalah ide dalam diri manusia, dan proses belajar
adalah pengembangan ide yang telah ada dalam pikiran. Sedang bagi penganut
realisme, realita terdapat dalam dunia fisik, sumber pengetahuan adalah
pengalaman sensori, dan belajar merupakan kontak atau interaksi individu dengan
lingkungan fisik.
Salah satu fase dalam pembelajaran anak yang paling awal adalah
belajar dalam membaca, menulis dan berhitung. Hal ini merupakan dasar dari
pemahaman yang fundamental terhadap persiapan anak dalam mencari ilmu yang
lebih kompleks terkait pemahaman bahasa, lingkungan dan norma-norma sosial.
Dalam menjalani fase ini banyak anak mengalami hambatan kesulitan belajar. Kesulitan
belajar atau ketidakmampuan belajar adalah
kondisi neurologis yang memengaruhi kemampuan otak untuk mengirim, menerima,
dan memproses informasi. Seorang anak dengan ketidakmampuan belajar mungkin
mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, berbicara, mendengarkan, memahami
konsep matematika, dan dengan pemahaman umum. Menurut Ristiyani & Bahriah (2016), kesulitan belajar termasuk kelompok gangguan seperti disleksia,
dyspraxia, dyscalculia dan dysgraphia. Setiap jenis gangguan dapat hidup
berdampingan dengan yang lain. Ketidakmampuan belajar bukan disebabkan karena
penyakit fisik atau mental, kondisi ekonomi, atau latar belakang budaya juga
tidak menunjukkan bahwa anak itu lemah atau malas.
Menurut Karanth (2002) mendefinisikan kesulitan belajar sebagai
gangguan dalam satu atau lebih proses psikologis dasar yang terlibat dalam
memahami atau menggunakan bahasa, lisan atau tulisan, yang dapat
memanifestasikan dirinya dalam kemampuan yang tidak sempurna untuk
mendengarkan, berbicara, membaca, mengeja atau melakukan perhitungan matematis.
Istilah ini mencakup kondisi seperti cacat persepsi, cedera otak, disfungsi
otak minimal, disleksia, dan afasia perkembangan. Istilah itu tidak termasuk
anak-anak yang memiliki masalah belajar yang terutama disebabkan oleh cacat
visual, pendengaran atau motorik, atau keterbelakangan mental, gangguan
emosional atau kerugian lingkungan, budaya atau ekonomi (Wong, 2004). Para ahli
mengatakan bahwa tidak ada penyebab tunggal yang spesifik untuk ketidakmampuan
belajar membaca, menulis dan berhitung. Namun, ada beberapa faktor yang dapat
menyebabkan ketidakmampuan belajar menurut Suryani (2010) yang meliputi
genetika, penyakit selama masa kehamilan, stress, lingkungan, komorbiditas, dan
kurangnya asupan nutrisi pada anak. Kesulitan anak dalam belajar baca, tulis
dan hitung ini jelas menjadi suatu hambatan yang menyulitkan anak. Hal ini
karena baca, tulis dan hitung menjadi suatu kemampuan dasar yang wajib dimiliki
sebagai bekal dalam menuntut ilmu sosial maupun eksata. Kegiatan baca, tulis
dan hitung pada anak harus diberikan dalam porsi yang seimbang sesuai tumbuh
kembang anak. Dengan demikian kesulitan anak dalam belajar dapat dipetakan
permasalahannya.

Tidak ada komentar