RTL SOFTSKILL DAD AKBAR 2021 (ESSAY) : TUMBUH KEMBANG DIMASA PANDEMI
Tumbuh Kembang Dimasa Pandemi
Oleh: Fawaza Habafillah
Seribu hari pertama perkembangan manusia disebut juga dengan golden age. Ini terjadi sejak dalam
kandungan hingga anak berusia dua tahun. Tepatnya, terhitung mulai terjadinya pembuahan. Masa ini
disebut juga dengan masa kritis, karena 70-80%
perkembangan otak terjadi pada rentang usia tersebut. Pada tahap ini,
anak mengalami pertumbuhan fisik dan
perkembangan otak yang maksimal, maka kemampuan fungsi struktur tubuhnya menjadi
lebih kompleks. Pada tahap ini terjadi perkembangan kepribadian yang membentuk pola perilaku, sikap dan ekspresi
emosi anak.
Sedangkan
anak usia dini merupakan anak yang berada pada rentang usia 0 hingga 8 tahun. Pada usia ini, anak berada pada masa bermain,
sehingga jenis pembelajarannya lebih menekankan pada
bermain sambil belajar. Karena saat bermain anak
lebih mudah mencerna informasi baru yang diterima otaknya dan menjadikannya ilmu dasar dalam berpikir. Selain itu, diusia ini merupakan
awal kehidupan yang notabene
masa awal anak dalam mengenal dunia. Pada masa ini, anak harus mendapat stimulasi dalam semua aspek seperti;
kognitif, fisik- motorik, bahasa, sosial-emosional dan moral-agama. Dan ini dilakukan dengan berbagai macam jenis
pembelajaran yang biasanya dilakukan disekolah.
Pandemi Covid-19 sudah
masuk ke Indonesia
sejak awal tahun 2020. Hal ini membatasi kegiatan msyarakat disemua sektor dan lini. Seperti
adanya kebijakan PSBB diawal
pandemi, hingga sebagian
wilayah memutuskan untuk melakukan lockdown mandiri. Hal ini pasti juga membatasi
pergerakan masyarakat umum, contohnya dengan
anjuran untuk masyarakat agar tetap di rumah saja, dan mengurangi interaksi dengan lingkungan luar. Ini tentu berdampak pada kegiatan pembelajaran terutama disektor PAUD.
Sejatinya pendidikan anak usia dini bertujuan untuk menunjang tumbuh
kembang anak, yang sejauh ini hanya dapat dilakukan dengan pembelajaran
tatap muka. Sehubungan dengan
adanya pembatasan mobilitas
masyarakat ini, menjadikan sekolah-sekolah juga menutup kegiatan tatap muka dan beralih ke pembelajaran daring.
Ini berdampak cukup signifikan pada lembaga PAUD di Indonesia.
Karena tidak diperbolehkannya melakukan pembelajaran tatap
muka, sehingga pembelajaran yang dilakukan kurang maksimal. Karena hanya dilakukan
dengan daring, dengan tidak adanya
interaksi fisik langsung
antara guru dan murid. Ini pasti juga mempengaruhi
kinerja guru dalam memberikan stimulasi tumbuh kembang pada muridnya. Semakin memburuk jika kegiatan pembelajaran daring hanya melakukan pertemuan virtual melalui media seperti Zoom ataupun video call. Karena jika hanya melakukan pembelajaran dengan metode ceramah saja, itu tidak akan mengasah kemampuan fisik dan otak anak. Serta justru menjadikan anak kurang gerak dan mudah bosan.
Pembelajaran daring seperti ini juga menyebabkan penurunan nilai pencapaian agama dan moral pada anak. Selama ini, para orangtua hanya menggantungan bekal agama untuk anak pada lembaga pendidikan, dengan kata lain mengandalkan orang lain sepenuhnya. Tentu saja ini disebabkan juga karena rendahnya pengetahuan dan kesadaran agama pada rata-rata masyarakat. Masih banyak masyarakat yang meskipun memiliki agama, tetapi tidak mencerminkan diri sebagai pemeluk agama tersebut. Contohnya jika biasanya anak sekolah luring sekolah memiliki program setiap hari Jumat melakukan sholat Dhuha berjamaah bagi murid. Namun setelah pembelajaran daring, orangtua tidak melakukan hal yang sama. Jika terlalu lama, maka akan menghilangkan kebiasaan baik yang sedang dibentuk oleh sekolah.
Sebaiknya para
pendidik lembaga PAUD dimasa pandemi ini lebih mempererat hubungan
dengan orangtua murid. Menjalin komunikasi tentang program tumbuh kembang murid pada orangtua, sehingga orangtua
dapat terlibat dalam pembelajaran dan mengamati aspek-aspek perkembangan
anaknya. Tentu saja hal ini juga sangat membantu
kegiatan pembelajaran, contohnya seperti orangtua dapat melaporkan hasil pengamatan saat anak mengerjakan tugas
pada guru, sehingga guru bisa lebih mudah menetukan
nilai yang tepat bagi tiap muridnya. Dan akan lebih baik jika para orangtua dibebaskan dalam hal pemilihan
kegiatan yang akan dilakukan.
Sehingga orangtua juga dapat mencetuskan berbagai jenis kegiatan yang dapat dilakukan di rumah bersama anak dalam rangka pembelajaran. Sebelum itu, lebih baik orangtua berkonsultasi pada guru terlebih dahulu tentang hal-hal yang penting untuk diperhatikan pada saat menstimulasi perkembangan anak. Sejauh ini cara paling tepat unuk menstimulasi tumbuh kembang anak yakni dengan membuat anak bergerak, mengeksplor mengamati dan mencontohnya. Contohnya seperti bercerita untuk mengembangkan kemampuan bahasa dan percaya diri anak. Lalu kegiatan menggambar, bermain lego dan permainan outdoor untuk melatih fisik-motorik. Semua hal ini tentu tidak dapat dimaksimalkan jika pembelajaran hanya berbasis Teacher Learning Center. Karena murid hanya mendengarkan serta tidak berkesempatan untuk mempraktekkan dan memiliki pengalaman yang bisa melatih dirinya.
Program
kegiatam bermain sambil belajar juga tetap bisa diterapkan orangtua selama pembelajaran daring ini. setelah
melakukan konsultasi dan memahaminya. Orantua dapat menentukan kegiatan yang
dilakukan anak dalam menunjang tumbuh kembanganya
selama di rumah saja. Contohnya setiap hari Senin program sekolah lebih memfokuskan pada stimulasi fisik-motorik
anak. Maka, orangtua memberikan kegiatan pada
anak yang dapat menstimulasi motorik anak. Seperti mengajak anak memanen sayuran
di kebun, bermain permainan
tradisional seperti congklak, lompat tali dan
engklek. Selain dapat menstimulasi anak, kegiatan ini juga mempererat
hubungan anak dengan orangtuanya karena dapat menghabiskan waktu bersama.
Sementara untuk penanaman nilai moral –agama pada anak, orangtua bisa ikut membiasakannya dalam keseharian anak. Seperti berdoa sebelum dan sesudah melakukan suatu hal, mengajak anak bekerjasama membersihkan rumah, berbagi dengan orang yang membutuhkan serta mengajak anak beribadah berjamaah di rumah atau tempat ibadah jika memungkinkan.
Tidak ada komentar