RTL SOFTSKILL DAD AKBAR 2021 (ESSAY) : KEADAAN ISLAM INDONESIA
Keadaan
Islam Indonesia
Oleh : Frisdayana Amandawati
Salah satu faktor penyebab kemunduran Islam adalah kurang nya pengamalan keilmuan dan tradisi yang menyangkut intelektual. Kecenderungan akal yang logis (berpikir) dan mendasar dalam kebiasaan Islam yang tercermin dalam kata "ijtihad", membiasakan umat Islam untuk secara konsisten memanfaatkan akal (pikiran) dalam menangani berbagai masalah kehidupan umat Islam, sehingga karya-karya luar biasa dibawa ke dunia dalam bidang fiqh, filsafat, ilmu kalam, tafsir dan berbagai bidang lainnya. Bagaimanapun, karena ada anggapan bahwa jalan masuk ijtihad itu tertutup seperti yang diumumkan oleh para ulama tertentu pada abad ke -10 M dikenal sebagai tradisi (budaya) taqlid (mengikuti), dan tidak adanya penalaran bergerak kebiasaan ilmiah yang selama beberapa waktu telah menetap dalam praktik gagasan Islam. Akibatnya pemikiran yang kritis dan rasional yang semula menjadi kebiasaan dan kebiasaan umat Islam, lalu dengan berjalannya waktu hal itu hilang dan ditelan oleh rasa nyaman akan makna sejarah sebelumnya, atau yang disebut dengan romantisme dari sejarah.
Isu Islam dan Negara melibatkan ijtihadiyah, selanjutnya renungannya secara konsisten mengacu pada perbaikan sosial dan sosial yang tercipta dan autentik jika terdapat perbedaan ide dan pelaksanaan dalam berbangsa dan bernegara. Ketiga perkumpulan unik ini sama-sama berusaha bereaksi terhadap kesulitan kerangka politik dan pemerintahan Barat, seperti patriotisme, sistem mayoritas, radikalisme, dan lain-lain. Seperti halnya kualitas fundamental dasar seperti keseragaman. Isu legislasi dan konstitusi yang sah serta pertarungan nyata melawan pemerintah yang sebenarnya telah menjadi bagian dari sejarah panjang perjuangan umat Islam di negeri ini. Bagaimanapun, drama-drama permasalahan tanpa naskah sosio-politik yang pemikirannya seperti itu tidak pernah mendapat bantuan dari sebagian besar masyarakat.
Dalam waktu perubahan, kelompok ideologis yang bergantung pada Islam (pertemuan Islam) kembali. Ada beberapa faktor yang mendorong kembalinya perkumpulan-perkumpulan Islam ini. Pertama, faktor filosofis yang melahirkan sila bahwa agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan politik dan kenegaraan. Kedua, faktor sosiologis di mana sebagian besar umat Islam Indonesia berada sehingga harus ada tempat bagi mereka. Ketiga, faktor kronik di mana kehadiran arisan tidak dapat dipisahkan dari sejarah sebelumnya di mana arisan telah hadir dan ikut serta dalam perjuangan negara Indonesia. Keempat, faktor perubahan yang melahirkan peluang dan demokratisasi di mana setiap perkumpulan dan perkumpulan terbuka peluang untuk membingkai atau membangun kelompok ideologis, dalam bahasa AM Fatwa, satu Islam, dan banyak perkumpulan. Tampaknya gagasan diskontinuitas ini telah menjadi ciri khas kekuatan Islam di Indonesia sejak masa pertempuran. Oleh karena itu, sungguh luar biasa bahwa dari kalangan inovator lahir kelompok-kelompok ideologi Islam, misalnya PBB, PUI, Masyumi Baru, Masyumi (Partai Islam), Partai Syarikat Islam. (dan PAN yang tidak bergantung pada standar Islam namun adalah patriot yang ketat). Untuk sementara, dari kalangan konservatif, lahir kelompok-kelompok ideologis, misalnya PKU dan PNU (walaupun PKB yang tidak bergantung pada standar Islam namun sangat patriotik). Sementara itu, dari perut Sarekat Islam lahir kelompok-kelompok ideologis, misalnya PSII dan PSII 1905. Hal ini dengan alasan bahwa meskipun jumlah kelompok ideologi Islam sangat banyak, juga karena komponen elite politik Islam yang membentuk kelompok ideologis dengan arah patriot yang tegas dan pluralis, seperti PKB dan PAN. Wadah kedua pemain tersebut memiliki basis yang kokoh dan besar, khususnya NU (Nahdatul Ulama) dan Muhammadiyah. Lebih jauh lagi, di kalangan umat Islam telah terjadi perubahan filosofis di mana mereka melihat substansi Islam lebih dari formalisme Islam sebagai perkumpulan Islam. perkumpulan ini menyampaikan syariat Islam dalam perjuangannya. Sementara itu, PKS meskipun sebagai perkumpulan Islam tidak menyampaikan materi-materi keislaman yang membuat warga resah, namun pada topik yang menjadi perhatian daerah yang lebih luas, khususnya clean government, terbebas dari KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme), pemerataan dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa subjek yang ketat tampaknya kurang menarik bagi warga Muslim, melainkan membutuhkan topik yang diidentifikasi dengan isu-isu asli yang dilihat oleh masyarakat selama ini.
Peristiwa nyata di Indonesia, khususnya Aksi
212 di depan keputusan Politik Umum Wakil Pimpinan Jakarta pada April 2017 yang
menolak penunjukan Ahok-Djarot sebagai tiup wakil pimpinan yang menandingi
Anies-Sandi. Sebenarnya Ahok-Djarot kalah dan sekaligus mendapat hukuman 2
tahun penjara atas permintaan komplotan Islamis yang dianggap telah menghina
Islam dan menghina Al-Qur’an. Peristiwa keputusan politik resmi di Iran pada
tanggal 23 Mei 1997, di mana pesaing resmi pasca-Islam, Muhammad Khatami, menghancurkan
seorang pendeta, Ayatollah Nateq Nuri, yang mendapat bantuan penuh dari seluruh
yayasan moderat, negara. -menjalankan media, militer, sebagian besar Imam shalat
Jumat, dan perintis agung Ayatollah Ali Khameini. Muhammad Khatami memerintah
atas jaminan reformasi pemerintahan pasca-Islamisme menuju negara berdasarkan
suara dan kebebasan bersama. Iran telah menjadi model untuk melaksanakan
pemerintahan rakyat di dunia Muslim sejak saat itu. Episode ini bertolak
belakang dengan apa yang terjadi di Indonesia dalam pelantikan Gubernur DKI
Jakarta pada April 2017. Kemungkinan wakil ketua dan wakil ketua gubernur,
Anies-Sandi, menang, karena mendapat bantuan penuh dari gerombolan Islam di
Wilayah Jakarta bahkan dari seluruh Islam di Indonesia dari Sabang sampai
Merauke. Keputusan politik resmi tahun 2014 di Indonesia kembali beragam. Di mana
para pesaing yang kalah terus menyambut pertemuan-pertemuan Islamisme untuk
tetap eksis di arena terbuka dengan mempengaruhi orang-orang biasa sejak tahun
2014 lalu. Misalnya, saat ini ada isu-isu PKI yang tidak layak diangkat lagi
dalam aturan Indonesia saat ini. Kejadiannya unik dan banyak yang tahu bahwa
isu PKI hanya lah isu yang didorong oleh kebijakan untuk menebang lawan dan
menemukan kekurangan lawan mereka. Maka muncullah isu PKI yang tidak memiliki
awal yang masuk akal. Sejalan dengan itu, kembalinya Islam sebagai Islamisme
bukanlah kembalinya kepercayaan, melainkan bangkitnya dari kedatangan yang
disucikan dengan tuntutan politik.
Tidak ada komentar