RTL SOFTSKILL DAD AKBAR 2021 (ESSAY) : LEARNING LOSS DI MASA PANDEMI
Learning Loss di Masa Pandemi
Oleh: Maulida Rahmawati
Pandemi ini telah berdampak pada seluruh aspek
kehidupan, tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Mengubah paradigma yang
semula pembelajaran dilaksanakan secara tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh.
Pemerintah melalui Kemdikbud dan kementerian lainnya telah memberikan subsidi
kuota internet kepada para siswa untuk dapat dimanfaatkan dalam rangka
pembelajaran daring. Namun itu tidak menjadi satu satunya solusi untuk
memecahkan permasalahan pembelajaran daring. Meski sudah ada kuota internet,
tidak semua siswa atau orang tua memiliki infrastruktur perangkat pendukung
seperti gawai dan laptop. Bahkan tidak sedikit juga yang sulit untuk
mengoperasikan smartphone tersebut. Hal ini membuat orang tua dituntut untuk
menjadi seorang guru, pengasuh, sekaligus pendamping bagi anaknya di rumah
dengan berbagai latar belakang ekonomi dan pendidikan yang berbeda-beda. Dengan
demikian, yang terpenting adalah peran orang tua dalam menguatkan pendidikan
karakter anaknya selama mengikuti pembelajaran jarak jauh di rumah.
Learning Loss adalah situasi hilangnya kesempatan
belajar siswa akibat tidak berlangsungnya proses pembelajaran yang berdampak
pada penurunan kompetensi belajar siswa. Learning Loss sudah diprediksi akan
terjadi dari mulai awal pandemi Covid-19. Berdasarkan data Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan RI, pembelajaran jarak jauh pada saat pandemi kurang
efektif. Berkurangnya interaksi antara guru dengan siswa pada saat pembelajaran
membuat siswa kesulitan menguasai materi secara komperehensif serta penguatan
pendidikan karakter menjadi tidak optimal. Learning Loss tidak melulu berkutat
tentang persoalan akademik, ada dimensi pendidikan karakter juga di dalamnya.
Penting untuk mengedepankan pendidikan karakter di sekolah maupun di rumah yang
membuat siswa memiliki motivasi belajar dari dalam diri mereka sendiri. Tentu
faktor orang tua juga berkontribusi untuk mengurangi terjadinya Learning Loss. Hal
ini sudah menjadi tantangan bersama dan perlu juga sinergi dari berbagai pihak
khususnya sekolah, orang tua, dan stakeholder terkait lainnya.
Bersumber dari Analisis Survey Cepat Pembelajaran
dari Rumah dalam Masa Pencegahan Covid-19 Kemdikbud, sebagian besar siswa
belajar dengan mengerjakan soal dari guru, hanya 38% siswa saja yang belajar
interaktif bersama guru secara daring. Hal ini berimbas pada kejenuhan siswa
dalam belajar. Terlebih lagi siswa yang memiliki akses internet yang terbatas
menjadi sulit untuk berkomunikasi dan bertanya mengenai materi pelajaran dengan
guru. Dalam hal ini, kita sebagai mahasiswa harus turut andil dalam
meminimalisir turunnya capaian pembelajaran siswa dengan memberikan les privat
kepada tetangga dan masyarakat yang mempunyai keterbatasan dalam mengakses
sumber belajar. Pendidikan karakter dan akhlak juga harus tetap diberikan
kepada siswa guna menguatkan motivasi belajarnya.
SE Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 Kebijakan Pendidikan
Dalam Masa Darurat Covid-19 menyatakan bahwa dalam kegiatan belajar dari rumah
(1) Siswa tidak dibebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum. (2)
Difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai Covid-19. (3)
Tugas dan aktivitas disesuaikan dengan minat dan kondisi siswa, serta
mempertimbangkan akses dan fasilitas belajar di rumah. (4) Bukti atau produk
aktivitas belajar dari rumah diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dari
guru, tanpa harus berupa skor/nilai kuantitatif. Di masa pandemi ini kualitas
pendidikan jauh menurun, bisa karena sistem pembelajaran yang daring atau metode
mengajar yang kurang tepat, dan sebagainya. Indikator keberhasilan belajar anak
sebelum pandemi dengan saat pandemi benar-benar berbeda. Sekarang banyak
pemakluman dan tidak sedikit ditemukan siswa kelas 4 yang kemampuannya masih
berada di leval kelas 3 atau kelas 2. Sebagai contoh, mahasiswa PGSD di suatu
kampus mengaku bahwa beberapa anak didiknya sampai saat ini belum bisa
memecahkan perkalian dan pembagian padahal mereka sudah kelas 6 SD.
Jika pemakluman itu terus dilakukan, bagaimana
dengan generasi selanjutnya? Sudah dikatakan bahwa hal ini menjadi tantangan
bersama dan perlu juga sinergi dari berbagai pihak khususnya sekolah, orang
tua, dan stakeholder terkait lainnya. Para pendidik dituntut untuk kreatif dan
inovatif dalam mengubah model pembelajaran yang semula bersifat tatap muka
menjadi platform daring. Bukan sekadar membebani siswa dengan melulu memberikan
tugas tanpa membahasnya dengan tutorial/penjelasan yang berarti. Hal ini
membuat esensi kegiatan belajar mengajar menjadi terabaikan. Patut diapresiasi
pula usaha guru dalam mempersiapkan metode, sarana, dan kurikulum yang akan
diajarkan kepana siswa. Yang mengalami kendala bukan hanya siswa melainkan juga
para guru, terlebih lagi guru yang gagap dalam teknologi informatika. Tidak
mengherankan jika berbagai pihak dalam bidang pendidikan mengalami kepanikan
akibat pandemi ini, tidak terbiasa dengan aplikasi platform daring, terkendala
sinyal, dan permasalahan teknis lainnya. Padahal seiring berjalannya waktu dan
perkembangan teknologi yang semakin pesat, bisa dikatakan pembelajaran online
tetap akan dilaksanakan pasca pandemi. Kolaborasi dan sinergi antara sekolah,
guru, dan orang tua penting dilakukan demi terbentuknya akhlak dan karakter
anak. Sesibuk apapun orang tua, luangkan waktu untuk memberikan dukungan dan
apresiasi kepada anak sehingga anak menjadi percaya diri dan menantang
ketidakpuasannya dalam pembelajaran jarak jauh masa pandemi Covid-19 ini.
Mahasiswa sebagai pembelajar yang melek teknologi
kiranya bertanggung jawab menyikapi perubahan teknologi informasi yang kian
cepat. Kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar lebih ditekankan
saat ini. Mahasiswa diharapkan dapat mengubah pemikiran agar pembelajaran jarak
jauh menjadi kegiatan yang menyenangkan dan tidak lagi memandang pesimis
mengenai dunia pendidikan di masa pandemi ini. Walaupun memang banyak kendala
dan tantangan yang harus dihadapi, yakin jika semua pihak dalam pendidikan
bersinergi maka masalah dapat sebagian teratasi. Mahasiswa diharapkan menjadi
penggerak dan pelopor yang menyadarkan orang tua dan masyarakat akan pentingnya
membersamai anak dalam pembelajaran di tengah pandemi ini.
Tidak ada komentar